http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com
BIMBINGAN DAN KONSELING
Pengantar :
Di bawah ini terdapat pernyataan - pernyataan yang berhubungan dengan
penyelengaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah.
Anda diminta untuk memilih alternatif jawaban yang sesuai dengan kondisi nyata
di sekolah Anda, dengan cara membubuhkan tanda silang ( X ) pada kolom yang
telah disediakan. Anda dimungkinkan mengisi lebih dari satu pilihan jawaban.
Jika terdapat hal –hal yang belum terungkap dari masing-masing aspek, Anda
dapat menambahkan dengan cara menuliskannya pada kolom tambahan dan
beri tanda silang ( X ) pada kolom yang telah disediakan.
Jumlahkan alternatif pilihan yang Anda pilih pada kolom yang telah disediakan.
1. KEPALA SEKOLAH
1. Memahami dan peduli terhadap BK
2. Mengintegrasikan program BK dengan program sekolah
3. Memfasilitasi pengembangan program BK
4. Melaksanakan penilaian BK
5. Melaksanakan pembinaan BK
6. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan khusus BK
7. Responsif terhadap upaya inovasi BK di sekolah
8.
Jumlah
2. WAKIL KEPALA SEKOLAH
1. Membantu tugas-tugas kepala sekolah, khususnya yang berkenaan
dengan layanan BK
2. Memahami dan peduli terhadap BK
3. Membantu memasyakatkan BK
4. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan khusus BK
5.
Jumlah
INSTRUMEN PENYELENGGARAAN
BIMBINGAN DAN KONSELING
Disusun oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd. Pengawas Sekolah Kabupaten Kuningan
2
3. KOORDINATOR BK
1. Memasyarakatkan BK kepada segenap warga sekolah, orang tua
siswa dan masyarakat.
2. Mengkoordinasikan guru BK dalam menyusun program tahunan
3. Mengkoordinasikan guru BK dalam menyusun program semesteran
4. Mengkoordinasikan guru BK dalam menyusun satuan layanan BK
5. Mengkoordinasikan guru BK dalam menyusun satuan kegiatan
pendukung BK
6. Mengkoordinasikan guru BK dalam menyusun agenda mingguan
7. Mengkoordinasikan guru BK dalam menyusun agenda harian
8. Mengkoordinasikan guru BK dalam membuat rekap bulanan
9. Mengkoordinasikan guru BK dalam melaksanakan segenap program
BK
10. Mengkoordinasikan guru BK dalam menilai hasil pelaksanaan program
BK
11. Mengkoordinasikan guru BK dalam menganalisis hasil penilaian
layanan dan kegiatan pendukung BK.
12. Mengkoordinasikan guru BK dalam menindak lanjut hasil analisis
layanan dan kegiatan pendukung BK.
13. Mengadministrasikan kegiatan satuan layanan dan kegiatan
pendukung BK.
14
Mengusulkan kepada kepala sekolah dan mengusahakan bagi
terpenuhinya tenaga, sarana dan prasarana, alat dan perlengkapan
BK
15. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan kepengawasan oleh Pengawas
Bidang BK
16. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan layanan BK kepada Kepala
Sekolah
17.
Jumlah
Disusun oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd. Pengawas Sekolah Kabupaten Kuningan
3
4. KONSELOR/GURU BK
1. Memasyarakatkan BK kepada segenap warga sekolah
2. Membimbing siswa minimal 150 orang
3. Melayani setiap siswa minimal 8 kali dalam setiap semester
4. Menyusun Program Semesteran
5. Menyusun Program Satuan Layanan BK
6. Menyusun Program Satuan Kegiatan Pendukung BK
7. Membuat Agenda Harian
8. Membuat Rekap Bulanan
9. Melaksanakan segenap program Satuan Layanan BK
10. Melaksanakan segenap program Satuan Kegiatan Pendukung BK
11. Menilai proses dan hasil pelaksanaan Satuan Layanan dan Kegiatan
Pendukung BK
12. Menganalisis hasil penilaian layanan dan kegiatan pendukung BK
13. Melaksanakan tindak lanjut hasil analisis layanan dan kegiatan
pendukung BK
14. Mengadministrasikan kegiatan satuan layanan dan kegiatan
pendukung.
15. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan kepengawasan oleh Pengawas
dalam Bidang BK
16. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan layanan BK kepada
Koordinator BK dan Kepala Sekolah
17. Berlatar belakang pendidikan S1 BK atau non BK dan telah
tersertifikasi
18. Aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan profesi, seperti
seminar, pelatihan, penelitian, dan sebagainya.
19.
Jumlah
Disusun oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd. Pengawas Sekolah Kabupaten Kuningan
4
5. GURU MATA PELAJARAN/PRAKTIK
1. Membantu memasyarakatkan BK
2. Membantu mengidentifikasi siswa yang memerlukan layanan BK
3. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan BK
4. Menjadi agen referal (alih tangan kasus)
5. Berpartisipasi dalam kegiatan konferensi kasus
6.
Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru dengan
siswa, dan hubungan siswa dengan siswa yang menunjang
pelaksanaan BK
7.
Jumlah
6. WALI KELAS
1. Membantu konselor/guru BK melaksanakan tugas-tugasnya,khususnya
di kelas yang menjadi tanggung jawabnya
2. Membantu Guru Mata Pelajaran melaksanakan perannya dalam
pelayanan BK, khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya.
3. Membantu memberi kesempatan kepada siswa, khususnya di kelas
yang menjadi tanggung jawabnya untuk mengikuti layanan BK
4. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan BK
5. Berpartisipasi dalam kegiatan khusus BK, seperti konferensi kasus
6.
Jumlah
7. STAF TU
1. Membantu konselor/guru BK melaksanakan tugas-tugasnya,
khususnya dalam kegiatan pengadministrasian BK
2. Menunjuk staf TU yang khusus diperbantukan untuk
mengadministrasikan kegiatan BK
3.
Jumlah
Disusun oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd. Pengawas Sekolah Kabupaten Kuningan
5
8. TEMPAT KEGIATAN
1. Ruang kerja konselor/guru BK dan meubelairnya
2. Ruang pelayanan dan meubelairnya
3. Ruang data dan administrasi BK beserta meubelairnya
4. Ruang kegiatan kelompok dan meubelairnya
5. Tertata rapih dengan suasana yang menyenangkan
6.
Jumlah
9. INSTRUMEN BK
1. Tes Inteligensi
2. Tes Bakat
3. Tes Prestasi Belajar Standar
4. Alat Ungkap Masalah/Inventori Masalah Siswa
5. Inventori PTSDL
6. Inventori Tugas Perkembangan
7. Skala Sikap
8. Skala Minat
9. Angket Siswa
10. Pedoman Observasi
11. Pedoman Wawancara
12. Sosiometri
13. Instrumen Penilaian Segera
14. Instrumen Penilaian Jangka Pendek
15. Instrumen Penilaian Jangka Panjang
16.
Jumlah
Disusun oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd. Pengawas Sekolah Kabupaten Kuningan
6
10. PERANGKAT ELEKTRONIK
1. Komputer
2. Program (software) AUM atau software yang sejenis
3. Program (software) ATP atau software yang sejenis
4. Program (software) DataSis atau software yang sejenis
5. Program (software) PTSDL atau software yang sejenis
6.
Jumlah
11. LITERASI DAN SUMBER MATERI BK
1. Dokumen Kurikulum 2006
2. Silabus BK
3. Buku Panduan Pelaksanaan BK
4. Buku Standarisasi Profesi Konseling
5. Buku –Buku tetang Bimbingan dan Konseling
6. Buku –Buku tentang Psikologi
7. Buku –Buku tentang Pendidikan
8. Buku –Buku/Sumber Materi Bimbingan Pribadi
9. Buku –Buku/Sumber Materi Bimbingan Sosial
10. Buku –Buku/Sumber Materi Bimbingan Belajar
11. Buku –Buku/Sumber Materi Bimbingan Karier
12.
Jumlah
Disusun oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd. Pengawas Sekolah Kabupaten Kuningan
7
12. KELENGKAPAN ADMINISTRASI
1. Blanko Format Satuan Layanan BK
2. Blanko Format Satuan Kegiatan Pendukung BK
3. Blanko Surat Panggilan Orang Tua
4. Blanko Surat Panggilan Siswa
5. Blanko Surat Alih Tangan Kasus
6. Blanko Laporan Bulanan
7. Blanko Rekapitulasi Bulanan
8. Buku Agenda Mingguan
9. Buku Agenda Harian
10. Catatan Konseling
11. Catatan Kejadian Siswa
12.
Jumlah
13. JENIS PROGRAM
1. Program Tahunan
2. Program Semesteran
3. Laporan Bulanan
4. Agenda Mingguan
5. Agenda Harian
6. Satuan Layanan BK
7. Satuan Kegiatan BK
8.
Jumlah
Disusun oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd. Pengawas Sekolah Kabupaten Kuningan
8
14. MATERI PROGRAM
1. Materi mengacu pada tugas perkembangan siswa/ standar
kompetensi
2. Materi sesuai dengan kebutuhan dan masalah nyata siswa
3. Materi mencakup seluruh bidang bimbingan
4. Mengintegrasikan materi pendidikan budi pekerti
5.
Jumlah
15. WAKTU PELAKSANAAN
1. Dilaksanakan pada jam efektif sekolah
2. Dilaksanakan di luar jam efektif sekolah
3. Dilaksanakan melalui jam khusus BK di kelas selama 1-2 jam/minggu
4.
Jumlah
16. ORIENTASI
1. Membuat satuan layanan orientasi secara tertulis
2. Materi disesuaikan dengan kebutuhan siswa
3. Materi mengacu kepada silabus
4. Materi mencakup seluruh bidang bimbingan
5. Dilaksanakan kepada seluruh siswa awal, terutama pada awal
semester dan awal tahun
6. Diberikan kepada setiap siswa baru/pindahan
7. Penyajian menggunakan multi metode
8. Melaksanakan evaluasi proses dan hasil layanan
9. Melaksanakan analisis analisis hasil layanan
10. Menindaklanjuti hasil analisis
11. Bekerja sama dengan pihak yang terkait
12.
Jumlah
Disusun oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd. Pengawas Sekolah Kabupaten Kuningan
9
17. INFORMASI
1. Membuat satuan layanan informasi secara tertulis
2. Materi disesuaikan dengan kebutuhan siswa
3. Mencakup seluruh bidang bimbingan
4. Materi mengacu kepada silabus
5. Diberikan kepada seluruh siswa
6. Dilaksanakan secara teratur, baik melalui pendekatan klasikal,
kelompok maupun perorangan, dengan menggunakan multi metode
7. Melaksanakan evaluasi proses dan hasil layanan
8. Melaksanakan analisis analisis hasil layanan
9. Menindaklanjuti hasil analisis
10. Bekerjasama dengan pihak yang terkait
11.
Jumlah
18. PEMBELAJARAN
1. Membuat satuan layanan pembelajaran secara tertulis
2. Materi disesuaikan dengan kebutuhan siswa
3. Materi mengacu kepada silabus
4. Diberikan kepada seluruh siswa
5. Mencakup seluruh bidang bimbingan
6. Dilaksanakan secara teratur, baik melalui pendekatan klasikal,
kelompok maupun perorangan dengan menggunakan multi metode
7. Melaksanakan evaluasi proses dan hasil layanan
8. Melaksanakan analisis analisis hasil layanan
9. Menindaklanjuti hasil analisis
10.
Bekerjasama dengan pihak yang terkait, khususnya dengan guru
mata pelajaran dalam rangka program pengajaran remedial dan
pengayaan
11.
Jumlah
Disusun oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd. Pengawas Sekolah Kabupaten Kuningan
10
19. PENEMPATAN
1. Membuat satuan layanan penempatan secara tertulis
2. Materi disesuaikan dengan kebutuhan siswa
3. Materi mengacu kepada silabus
4. Diberikan kepada seluruh siswa
5. Mencakup seluruh bidang bimbingan
6.
Dilaksanakan secara teratur, baik melalui pendekatan klasikal,
kelompok maupun perorangan dengan menggunakan multi
metode
7. Melaksanakan evaluasi proses dan hasil layanan
8. Melaksanakan analisis analisis hasil layanan
9. Menindaklanjuti hasil analisis
10. Bekerjasama dengan pihak yang terkait, khususnya dengan
Pembina OSIS dan Pembina Ekstra Kurikuler
11.
Jumlah
20. KONSELING PERORANGAN
1. Membuat satuan layanan konseling perorangan secara tertulis
2. Materi disesuaikan dengan kebutuhan siswa
3. Mencakup seluruh bidang bimbingan
4. Materi mengacu kepada silabus
5. Diberikan kepada seluruh siswa yang bermasalah
6. Menerapkan teknik-teknik umum konseling
7. Menerapkan teknik-teknik khusus konseling
8. Eksplorasi dan pemahaman masalah klien
9. Upaya –upaya pengentasan masalah klien
10. Melaksanakan evaluasi proses dan hasil layanan
11. Melaksanakan analisis analisis hasil layanan
12. Menindaklanjuti hasil analisis
13. Bekerjasama dengan pihak yang terkait
14.
Jumlah
Disusun oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd. Pengawas Sekolah Kabupaten Kuningan
11
21. BIMBINGAN KELOMPOK
1. Membuat satuan layanan bimbingan kelompok secara tertulis
2. Materi disesuaikan dengan kebutuhan siswa
3. Mencakup seluruh bidang bimbingan
4. Materi mengacu kepada silabus
5. Diberikan kepada seluruh siswa, baik melalui kelompok bebas
maupun kelompok tugas
6. Menerapkan tahapan – tahapan pelaksanaan Bimbingan
Kelompok secara tertib
7. Melaksanakan evaluasi proses dan hasil layanan
8. Melaksankan analisis analisis hasil layanan
9. Menindaklanjuti hasil analisis
10. Bekerjasama dengan pihak yang terkait
11.
Jumlah
22. KONSELING KELOMPOK
1. Membuat satuan layanan konseling kelompok secara tertulis
2. Materi disesuaikan dengan kebutuhan/masalah siswa
3. Mencakup seluruh bidang bimbingan
4. Materi mengacu kepada silabus
5. Diberikan secara periodik kepada kelompok siswa yang
bermasalah
6. Menerapkan tahapan –tahapan pelaksanaan Konseling Kelompok
secara tertib
7. Melaksanakan evaluasi proses dan hasil layanan
8. Melaksanakan analisis analisis hasil layanan
9. Menindaklanjuti hasil analisis
10. Bekerjasama dengan pihak yang terkait
11.
Jumlah
Disusun oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd. Pengawas Sekolah Kabupaten Kuningan
12
23. APLIKASI INSTRUMENTASI DATA
1. Membuat satuan kegiatan pendukung Aplikasi Instrumentasi data
2. Seluruh siswa menerima pelayanan instrumentasi dat
3.
Menggunakan berbagai instrumen untuk mengungkap berbagai
data tentang siswa, baik dalam bentuk tes, inventori, skala dan
sejenisnya.
4.
Secara periodik dilaksanakan pembaharuan data tertentu, seperti
data masalah siswa, data tugas perkembangan siswa dan data
sejenis lainnya.
5. Melaksanakan analisis data
6. Melaksanakan evaluasi proses dan hasil kegiatan
7. Melaksanakan analisis analisis hasil kegiatan
8. Menindaklanjuti hasil analisis
9. Bekerjasama dengan pihak lain yang terkait
10.
Jumlah
24. HIMPUNAN DATA
1. Memiliki data pribadi siswa yang lengkap
2. Memiliki data sosial siswa yang lengkap
3. Memiliki data belajar siswa yang lengkap
4. Memiliki data karier siswa yang lengkap
5. Memiliki data latar belakang keluarga siswa yang lengkap
6. Memiliki data masalah siswa yang lengkap
7. Memiliki data bakat siswa yang lengkap
9. Memiliki data kecerdasan siswa yang lengkap
10. Memiliki data tugas perkembangan siswa yang lengkap
11. Memiliki data kelompok yang lengkap
12. Memiliki data umum yang lengkap
13. Data tersimpan rapih dan terjaga kerahasiaannya, terutama untuk
data yang bersifat pribadi.
14. Seluruh data dimanfaatkan untuk setiap layanan BK
15.
Jumlah
Disusun oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd. Pengawas Sekolah Kabupaten Kuningan
13
25. KONFERENSI KASUS
1. Membuat satuan kegiatan pendukung konferensi kasus
2. Melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan dengan masalah
yang dihadapi siswa
3. Diberikan kepada seluruh siswa yang bermasalah berat
4. Melaksanakan evaluasi proses dan hasil kegiatan
5. Melaksanakan analisis hasil kegiatan
6. Menindaklanjuti hasil analisis
7.
Jumlah
26. KUNJUNGAN RUMAH
1. Membuat satuan kegiatan pendukung kunjungan rumah
2. Diberikan kepada seluruh kasus-kasus yang sangat
berkepentingan dengan pihak keluarga
3. Melaksanakan evaluasi proses dan hasil kegiatan
4. Melaksanakan analisis hasil kegiatan
5. Menindaklanjuti hasil analisis
6. Bekerjasama dengan pihak lain yang terkait
7.
Jumlah
27. ALIH TANGAN KASUS
1. Membuat satuan kegiatan pendukung alih tangan kasus
2. Dilaksanakan untuk setiap kasus-kasus yang tidak mungkin diatasi
oleh konselor/guru BK.
3. Dilaksanakan atas seizin kasus yang bersangkutan
4. Melaksanakan evaluasi proses dan hasil kegiatan
5. Melaksanakan analisis hasil kegiatan
6. Menindaklanjuti hasil analisis
7. Bekerjasama dengan berbagai kalangan profesional lain
8.
Jumlah
Disusun oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd. Pengawas Sekolah Kabupaten Kuningan
14
28. HASIL-HASIL LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
1. Siswa memperoleh pemahaman baru tentang masalah yang
dihadapinya
2. Siswa menunjukkan perubahan perasaan positif
3. Siswa dapat menyusun merencanakan kegiatan dalam rangka
mewujudkan pengentasan masalah yang dialaminya
4. Siswa menunjukkan perkembangan aspek-aspek kepribadian
5. Siswa dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya
6.
Jumlah
29. PENDIDIKAN DAN LATIHAN
1. Melanjutkan pendidikan formal pada Jurusan Bimbingan Konseling
2. Mengikuti pendidikan dan pelatihan BK tingkat nasional
3. Mengikuti pendidikan dan pelatihan BK tingkat propinsi
4. Mengikuti pendidikan dan pelatihan BK tingkat kabupaten
5.
Jumlah
30. PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN PROFESI
1. Bekerja sama dengan Pengawas BK untuk memperoleh penilaian
dan pembinaan
2. Berpartisipasi aktif dalam MGP tingkat Kabupaten/ Gugus
3. Berpartisipasi aktif dalam MGP tingkat Sekolah
4. Berpartisipasi dalam organisasi profesi ABKIN
5. Berpartisipasi aktif dalam seminar BK
6. Membuat karya ilmiah tentang BK
7.
Jumlah
Disusun oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd. Pengawas Sekolah Kabupaten Kuningan
15
LEMBAR JAWABAN PENYELENGGARAAN
BIMBINGAN DAN KONSELING
Nama Sekolah : ………………………………………..
Alamat Sekolah : ………………………………………..
………………………………………...
Tanggal Penilaian : ………………………………………..
NO. ASPEK PILIHAN JAWABAN N BOBOT SKOR
1 Kepala Sekolah 1 2 3 4 5 6 7 5
2 Wakil Kepala Sekolah 1 2 3 4 3
3 Koordinator BK 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 5
4 Konselor/Guru BK 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 10
5 Guru Mata Pelajaran 1 2 3 4 5 6 5
6 Wali Kelas 1 2 3 4 5 6 5
7 Staf TU 1 2 2
8 Tempat Kegiatan 1 2 3 4 5 2
9 Instrumen 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 5
10 Perangkat Elektronik 1 2 3 4 5 2
11 Literasi dan Sumber Materi BK 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 2
12 Kelengkapan Administrasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 2
13 Jenis Program 1 2 3 4 5 6 7 3
14 Materi Program 1 2 3 4 2
15 Waktu Pelaksanaan 1 2 3 2
16 Orientasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 3
17 Informasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 3
18 Pembelajaran 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 4
19 Penempatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 3
20 Konseling Perorangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 5
21 Bimbingan kelompok 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 3
22 Konseling Kelompok 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1
23 Aplikasi Instrumentasi Data 1 2 3 4 5 6 7 8 9 4
24 Himpunan Data 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 4
25 Konferensi Kasus 1 2 3 4 5 6 2
26 Kunjungan Rumah 1 2 3 4 5 6 2
27 Alih Tangan Kasus 1 2 3 4 5 6 7 2
28 Hasil-Hasil Layanan BK 1 2 3 4 5 5
29 Pendidikan dan Latihan 1 2 3 4 5 2
30 Pengembangan Profesi 1 2 3 4 5 6 2
SKOR TOTAL
Disusun oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd. Pengawas Sekolah Kabupaten Kuningan
16
SKOR TOTAL KATEGORI
SARAN-SARAN :
Mengetahui
Pengawas BK,
………………………..…………
NIP.
Mengetahui
Kepala SMA/SMK/SMP
………………………..
…………………………
NIP.
Kuningan,…………………
Guru BK/
Koord BK,
……..…………………………
NIP.
Disusun oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd. Pengawas Sekolah Kabupaten Kuningan
17
Penjelasan Teknik Skoring :
Menghitung nilai N untuk masing –masing item :
Jumlahkan setiap item yang diplilih dari masing–masing komponen kemudian
dibagi total item dari masing –masing komponen.
Contoh :
Komponen Kepala sekolah dipilih atau diisi sebanyak tiga dari tujuh item, maka
nilai N untuk komponen kepala sekolah adalah 3/7 = 0.43
Menghitung skor masing –masing item yaitu N X bobot
Contoh :
Nilai N komponen kepala sekolah 0.43 X 5 = 2.15
Lakukan hal yang sama untuk seluruh komponen (sebanyak 30 komponen)
Jumlahkan hasil skor dari masing-masing komponen.Jika setiap item disi
seluruhnya maka akan diperoleh skor maksimum = 100
Bandingkan hasil skoring dengan kriteria berikut ini
Skor Total Kategori
80 - 100 A = Sangat Baik
60 –79.5 B = Baik
40 –59.5 C = Cukup
20–39.5 D = Kurang
0 -19.5 E = Sangat Kurang
Catatan:
Harap diperhatikan bahwa setiap komponen mememiliki total item dan bobot
tersendiri.
Disusun oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd. Pengawas Sekolah Kabupaten Kuningan
18
INSTRUMEN DATA PENUNJANG
A. REKAPITULASI LAYANAN PER SEMESTER DALAM 1 TAHUN TERAKHIR
Semester Ganjil Semester Genap
No. Jenis Layanan Bidang
Bimbingan Jumlah
Siswa
Jumlah
Kegiatan
Jumlah
Siswa
Jumlah
Kegiatan
Pribadi
Sosial
Belajar
1. Orientasi
Karier
Pribadi
Sosial
Belajar
2. Informasi
Karier
Pribadi
Sosial
Belajar
3. Pembelajaran
Karier
Pribadi
Sosial
Belajar
4. Penempatan
Karier
Pribadi
Sosial
Belajar
5. Konseling Perorangan
Karier
Pribadi
Sosial
Belajar
6. Bimbingan Kelompok
Karier
Pribadi
Sosial
Belajar
7. Konseling Kelompok
Karier
Disusun oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd. Pengawas Sekolah Kabupaten Kuningan
19
B. REKAPITULASI KEGIATAN PENDUKUNG PER SEMESTER DALAM 1 TAHUN
TERAKHIR
Semester Ganjil Semester Genap
No. Jenis Kegiatan Bidang
Bimbingan Jumlah
Siswa
Jumlah
Kegiatan
Jumlah
Siswa
Jumlah
Kegiatan
Pribadi
Sosial
Belajar
1. Aplikasi Instrumentasi
Data
Karier
Pribadi
Sosial
Belajar
2 Konferensi Kasus
Karier
Pribadi
Sosial
Belajar
3. Kunjungan Rumah
Karier
Pribadi
Sosial
Belajar
4. Alih Tangan Kasus
Karier
C. REKAPITULASI MASALAH SISWA DAN PENGENTASANNYA PER SEMESTER
DALAM 1 TAHUN TERAKHIR
Semester Ganjil Semester Genap
Tingkat
Pengentasan
Tingkat
Pengentasan
No. Jenis Masalah Jumlah
Masalah
Jumlah %
Jumlah
Masalah
Jumlah %
1. Pribadi
2. Sosial
3. Belajar
4. Karier
Disusun oleh : AKHMAD SUDRAJAT, M.Pd. Pengawas Sekolah Kabupaten Kuningan
20
INSTRUMEN PENILAIAN
PENYELENGGARAN
BIMBINGAN DAN KONSELING
Disusun oleh :
TIM PENGAWAS BK
Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan
PEMERINTAH KABUPATEN KUNINGAN
DINAS PENDIDIKAN
2006
MAKALAH
MANAJEMEN PENDIDIKAN
”MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH”
Disusun Oleh :
Ranu Sudarmono (04504241034)
Kelas A
JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2007
MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
Abstrak: Konsekwensi logis dari diberlakukannya Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, Peraturan Pemerintah RI No.25 tentang Kewenangan Pemerintah (Pusat) dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom, dan bukti-bukti empirik yang menunjukkan bahwa manajemen berbasis pusat merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kurang optimalnya kinerja sekolah adalah perlu diterapkanya manajemen berbasis sekolah (MBS). Esensi MBS adalah otonomi sekolah plus pengambilan keputusan partisipatif. Otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku. Pengambilan keputusan partisipatif adalah cara mengambil keputusan yang melibatkan kelompok-kelompok kepentingan sekolah, terutama yang akan melaksanakan keputusan dan yang akan terkena dampak keputusan. Tujuan MBS adalah untuk memandirikan/memberdayakan sekolah. Tahap-tahap pelaksanaan MBS dapat diurutkan seperti berikut: mensosialisasikan konsep MBS, melakukan analisis sasaran, merumuskan sasaran, mengidentifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran, melakukan analisis SWOT, menyusun rencana sekolah, mengimplementasikan rencana sekolah, melakukan evaluasi, dan merumuskan sasaran baru.
Kata kunci :manajemen berbasis pusat, manajemen berbasis daerahotonpmi sekolah ,manajemen berbasis sekolah
1. Pendahuluan
Seiring dengan era globalisasi dan bergulirnya reformasi di negara ini telah membawa perubahan-perubahan mendasar dalam berbagai lingkungan termasuk lingkungan pendidikan. Salah satu contoh perubahan mendasar yang sedang digulirkan saat ini adalah manajemen negara.
Manajemen negara, yaitu dari suatu manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis daerah. Secara formal, perubahan manajemen ini telah dibuat dalam bentuk "Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah" yang kemudian diikuti pedoman pelaksanaannya berupa "Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2000” tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonomi. Konsekwensi logis dari Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah tersebut adalah bahwa manajemen pendidikan harus disesuaikan dengan jiwa dan semangat otonomi. Oleh sebab itu, maka manajemen pendidikan berbasis pusat yang selama ini telah dilaksanakan dan dipraktekkan di negara ini perlu diubah menjadi manajemen pendidikan berbasis sekolah.
Menurut Caldwell and Spink(1988), strategi pengelolaan pendidikan yang mengedepankan kerja sama antara berbagai pihak yang dikenal dengan istilah the collaborative school management yang pada perkembangan selanjutnya menjadi model pengelolaan sekolah yang dinamakan school based management atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).
School Based Management (SBM) atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan bentuk alternatif pengelolaan sekolah dalam bentuk desentralisasi bidang pendidikan, yang ditandai adanya otonomi luas di tingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang tinggi, dan dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional (tim Bappenas & bank Dunia, 1999:10).
2. Materi
Manajemen Berbasis Sekolah berasal dari tiga kata, yaitu manajemen, berbasis, dan sekolah. Manajemen adalah pengkoordinasian dan penyerasian sumberdaya melalui sejumlah input manajemen untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan atau untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Input manajemen terdiri dari tugas, rencana, program, limitasi yang terwujud dalam bentuk ketentuan-ketentuan, pengendalian (tindakan turun tangan), dan kesan dari anak buah ke atasannya). Pengertian manajemen tersebut, menurut Poernomosidi Hadjisarosa (1997) dapat dilukiskan seperti pada Gambar berikut :
Gambar Manajemen
Sumber: Poernomosidi Hadjisarosa, 1997
Keterangan: SDM-M (sumberdaya manusia manajer) mengatur sumber daya manusia pelaksana (SDM-P) melalui input manajemen yang terdiri dari (T = Tugas; R = Rencana, P = Program; T3 = Tindakan Turun Tangan; K = Kesan) agar SDM-P menggunakan jasa manusianya (Jm) untuk bercampur tangan terhadap sumber daya selebihnya (SD-slbh), sehingga proses dapat berlangsung dengan baik untuk menghasilkan output.
Sedangkan Berbasis berarti "berdasarkan pada" atau "berfokuskan pada". Sedangkan pengertian dari sekolah adalah suatu organisasi terbawah dalam jajaran Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) yang bertugas memberikan "bekal kemampuan dasar" kepada peserta didik atas dasar ketentuan-ketentuan yang bersifat legalistik (makro, meso, mikro) dan profesionalistik (kualifikasi, untuk sumber daya manusia; spesifikasi untuk barang/jasa, dan prosedur-prosedur kerja).
Dari pengertian diatas dapat dirangkum bahwa "manajemen berbasis sekolah" adalah pengkoordinasian dan penyerasian sumberdaya yang dilakukan secara otonomis (mandiri) oleh sekolah melalui sejumlah input manajemen untuk mencapai tujuan sekolah dalam kerangka pendidikan nasional, dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan (partisipatif)".
Catatan: kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah meliputi: kepala sekolah dan wakil-wakilnya, guru, siswa, konselor, tenaga administratif, orangtua siswa, tokoh masyarakat, para profesional, wakil pemerintahan, wakil organisasi pendidikan. Lebih ringkas lagi, manajemen berbasis sekolah dapat dirumuskan sebagai berikut (David, 1989): manajemen berbasis sekolah = otonomi manajemen sekolah + pengambilan keputusan partisipatif.
MBS menawarkan kepada sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik dan lebih memadai bagi para peserta didik. Adanya otonomi dalam pengelolaan pendidikan merupakan potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja para personil menawarkan partisipasi langsung pihak-pihak terkait dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Otonomi sekolah juga berperan dalam menampung konsensus umum yang meyakini bahwa sedapat mungkin, keputusan seharusnya dibuat oleh mereka yang memiliki akses paling baik terhadap informasi setempat, mereka yang bertanggungjawab terhadap kebijakan, dan mereka yang terkena akibat-akibat dari kebijakan tersebut. Hal ini sejalan dengan pemikiran Wirt & Kirst (1982:147), yang menyatakan bahwa better education would be possible if locally based,. (lihat juga Fiske, 1998).
MBS dapat dikatakan merupakan model pengelolaan pendidikan yang relatif baru bagi sekolah-sekolah di Indonesia. Model ini mulai diujicobakan tahun 1999/2000 pada 140 SMUN dan 248 SLTPN dan pada tahun 2000/2001 pada 486 SMUN dan 158 SLTPN yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia (Dikmenum, 2000d : 3). Hal ini disebabkan karena manajemen berbasis sekolah pada umumnya memiliki ciri-ciri universal, sehingga setiap sekolah yang akan mengadopsi model ini perlu mengadaptasikannya/menyesuaikannya dengan karakteristik kancah di sekolah masing-masing. Model manajemen berbasis sekolah berikut pada dasarnya ditampilkan menurut pendekatan sistem (berfikir sistem), yaitu output-proses-input. Urutan ini dipilih dengan alasan bahwa setiap kegiatan sekolah akan dilakukan, termasuk kegiatan melakukan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat), semestinya dimulai dari "output" yang akan dicapai, kemudian ke "proses", dan baru ke "input" yang dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Namun, langkah-langkah pemecahan persoalannya ditempuh dengan mengikuti urutan yang berlawanan dengan arah analisis SWOT.
Karena manajemen berbasis sekolah telah merupakan jiwa dan semangat sekolah, maka setiap penjelasan berikut telah menginklusifkan otonomi dan partisipasi ke dalamnya, meskipun tanpa menyebut istilah otonomi dan partisipasi. Artinya, setiap pembahasan butir-butir berikut selalu dijiwai oleh otonomi dan partisipasi dalam pengambilan keputusan sekolah. Secara ringkas, manajemen berbasis sekolah dapat diuraikan seperti berikut (Slamet PH, 2000; Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2000).
Output
Output sekolah diukur dengan kinerja sekolah. Kinerja sekolah adalah pencapaian/prestasi yang dihasilkan oleh proses/perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari efektivitasnya, kualitasnya, produktivitasnya, efisiensinya, inovasinya, kualitas kehidupan kerjanya, dan moral kerjanya, dengan keterangan seperti berikut :
Efektivitas adalah ukuran yang menyatakan sejauh mana sasaran (kuantitas, kualitas, waktu) telah dicapai. Dalam bentuk persamaan, efektivitas sama dengan hasil nyata dibagi hasil yang diharapkan.
Kualitas adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa, yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang ditentukan atau yang tersirat. Mutu barang atau jasa dipengaruhi oleh banyak tahapan kegiatan yang saling berhubungan seperti disain, operasi produk atau jasa dan pemeliharaannya.
Produktivitas adalah hasil perbandingan antara output dibagi input. Baik output maupun input adalah dalam bentuk kuantitas. Kuantitas input berupa tenaga kerja, modal, bahan, dan energi. Kuantitas output dapat berupa jumlah barang atau jasa, tergantung pada jenis pekerjaan.
Efisiensi dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu efisiensi internal dan efisiensi eksternal. Efisiensi internal menunjuk kepada hubungan antara output pendidikan (pencapaian belajar) dan input (sumberdaya) yang digunakan untuk memroses/menghasilkan output pendidikan (Coombs & Hallak, 1987). Efisiensi internal biasanya diukur dengan biaya-efektivitas. Setiap penilaian biaya-efektivitas selalu memerlukan dua hal, yaitu penilaian ekonomik untuk mengukur biaya masukan (input) dan penilaian hasil pembelajaran (prestasi belajar, lama belajar, angka putus sekolah). Sedang efisiensi eksternal adalah hubungan antara biaya yang digunakan untuk menghasilkan tamatan dan keuntungan kumulatif (individual, sosial, ekonomik, dan non-ekonomik) yang didapat setelah pada kurun waktu yang panjang diluar sekolah. Analisis biaya-manfaat merupakan alat utama untuk mengukur efisiensi eksternal.
Inovasi adalah proses yang kreatif dalam mengubah input, proses, dan output agar dapat sukses dalam menanggapi dan mengantisipasi perubahan-perubahan internal dan eksternal sekolah. Inovasi selalu memberikan nilai tambah terhadap input, proses, maupun output yang ada.
Kualitas kehidupan kerja adalah kinerja sekolah yang ditunjukkan oleh ukuran tentang bagaimana warga sekolah merasakan hal-hal seperti: pekerjaannya, kemanfaatannya, kondisi kerjanya, kesan dari anak buah terhadap bapak/ibu buah, kawan/kolega kerjanya, peluang untuk maju, pengembangan, kepastian, keselamatan dan keamanan, dan imbal jasanya.
Moral kerja adalah tingkat baik buruknya warga sekolah terhadap pekerjaannya yang ditunjukkan oleh etika kerjanya, kedisiplinannya, kejujurannya, kerajinannya, komitmennya, tanggungjawabnya, hubungan kerjanya, daya adaptasi dan antisipasinya, motivasi kerjanya, dan jiwa kewirausahaannya (bersikap dan berpikir mandiri, memiliki sikap berani mengambil resiko, tidak suka mencari kambing hitam, selalu berusaha menciptakan dan meningkatkan nilai sumberdaya, terbuka terhadap umpan balik, selalu ingin mencari perubahan yang lebih baik, tidak pernah merasa puas dan terus menerus melakukan inovasi dan improvisasi demi perbaikan selanjutnya, dan memiliki tanggungjawab moral yang baik).
Proses
Proses merupakan berubahnya "sesuatu" menjadi "sesuatu yang lain". Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses disebut "input", sedang sesuatu dari hasil proses disebut output. Dalam pendidikan bersekala mikro (sekolah), proses yang dimaksud adalah:
a. Proses Pengambilan Keputusan
Proses pengambilan keputusan partisipatif merupakan salah satu "inti" manajemen berbasis sekolah. Esensi proses pengambilan keputusan partisipatif (Cangemi, 1985) adalah untuk mencari "wilayah kesamaan" antara kelompok-kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah (stakehorder) yaitu kepala sekolah, guru, siswa, orangtua siswa, dan pemerintah/yayasan).
b. Pengelolaan Kelembagaan
Sekolah, sebagai lembaga pendidikan, harus dikelola secara profesional agar menjadi "sekolah belajar" (learning school) yang mampu menjamin kelangsungan hidup dan perkembangannya
c. Proses Pengelolaan Program
Pengelolaan program merupakan pengkoordinasian dan penyerasian program sekolah, yang meliputi: (1) perencanaan, pengembangan, dan evaluasi program sekolah, (b) pengembangan kurikulum, (c) pengembangan proses belajar mengajar, (d) pengelolaan sumberdaya manusia (guru, karyawan, konselor, dsb.), (e) pelayanan siswa, (f) pengelolaan fasilitas, (g) pengelolaan keuangan, (h) perbaikan program, dan (i) pembinaan hubungan antara sekolah dan masyarakat.
d. Proses Belajar Mengajar
Sedang proses belajar mengajar merupakan pemberdayaan pelajar yang dilakukan melalui interaksi perilaku pengajar dan perilaku pelajar, baik di ruang maupun di luar kelas. Karena proses belajar mengajar merupakan pemberdayaan pelajar, maka penekanannya bukan sekadar penguasaan pengetahuan tentang apa yang diajarkan (logos), tetapi merupakan internalisasi tentang apa yang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan dihayati serta dipraktekkan oleh pelajar (etos). Selain itu, proses belajar mengajar semestinya lebih mementingkan proses pencarian jawaban dari pada memiliki jawaban. Karena itu, proses belajar mengajar yang lebih mementingkan jawaban baku yang dianggap benar oleh pengajar adalah kurang efektif. Proses belajar mengajar yang efektif semestinya menumbuhkan daya kreasi, daya nalar, rasa keingintahuan, dan eksperimentasi-eksperimentasi untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru (meskipun hasilnya keliru), memberikan keterbukaan terhadap kemungkinan-kemungkinan baru, menumbuhkan demokrasi, dan memberikan toleransi pada kekeliruan-kekeliruan akibat kreativitas berfikir.
Input
Input adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Sesuatu yang dimaksud tidak harus berupa barang, tetapi juga dapat berupa perangkat dan harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses.
3. Masalah
Selama ini, menurut Bank Dunia (1998: xi, 69-73) dalam salah satu laporannya mengungkapkan sekolah hanyalah kepanjangan tangan birokrasi pemerintah pusat untuk menyelenggarakan urusan politik pendidikan. Para pengelola sekolah sama sekali tidak memiliki banyak kelonggaran untuk mengoperasikan sekolahnya secara mandiri. Semua kebijakan tentang penyelenggaran pendidikan di sekolah umumnya diadakan di tingkat pemerintah pusat atau sebagian di instansi vertikal dan sekolah hanya menerima apa adanya. Apa saja muatan kurikulum pendidikan di sekolah adalah urusan pusat, kepala sekolah dan guru harus melaksanakannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya. Anggaran pendidikan mengalir dari pusat ke daerah menelusuri saluran birokrasi dengan begitu banyak simpul yang masing-masing menginginkan bagian. Tidak heran jika nilai akhir yang diterima di tingkat paling operasional telah menyusut lebih dari separuhnya. Kita khawatir, jangan-jangan selama ini lebih dari separuh dana pendidikan sebenarnya dipakai untuk hal-hal yang sama sekali tidak atau kurang berurusan dengan proses pembelajaran di level yang paling operasional, sekolah. Dan juga Manajemen berbasis pusat yang selama ini telah dilaksanakan dan dipraktekkan memiliki banyak kelemahan, antara lain: keputusan pusat sering kurang sesuai dengan kebutuhan sekolah; administrasi berlebihan yang dikarenakan lapis-lapis birokrasi yang terlalu banyak telah menyebabkan kelambanan dalam menangani setiap permasalahan, sehingga menyebabkan kurang optimalnya kinerja sekolah; dalam kenyataan, administrasi telah mengendalikan kreasi; proses pendidikan dijalankan dengan undermanaged sehingga menghasilkan tingkat efektivitas dan efisiensi yang rendah; pendekatan sarwa-negara (state-driven) telah menempatkan sekolah pada posisi yang marginal, sehingga sekolah tidak berdaya, tidak memiliki keberanian moral (prakarsa) untuk berinisiatif; sekolah tidak mandiri; terjadi penyumbatan dan bahkan pemasungan demokrasi; sekolah tidak peka dan jeli dalam menangkap dan mengungkap permasalahan, kebutuhan, dan aspirasi pendidikan dari masyarakat; dan manajemen berbasis pusat tidak saja menumpulkan daya kreativitas sekolah, tetapi juga mengikis habis rasa kepemilikan warga sekolah terhadap sekolahnya.Selain itu telah lama pengaturan yang bersifat birokratik lebih dominan dari pada tanggungjawab profesional, sehingga kreativitas sekolah pada umumnya dan guru pada khususnya terpasung dan bahkan terbunuh. Tidak jarang pula dijumpai bahwa formalitas sering jauh melampaui hakiki. Yang lebih parah lagi guru-guru kehilangan "jiwa kependidikannya". Mendidik tidak lebih dari sekadar pengenalan nilai-nilai, yang hasilnya hanya berupa pengetahuan nilai (logos) dan belum sampai pada penghayatan nilai (etos), apalagi sampai pengamalannya. Akibatnya, menurut Aburizal Bakrie (1999), proses belajar mengajar di sekolah lebih mementingkan jawaban baku yang dianggap benar oleh guru, dibanding daya kreasi, nalar, dan eksperimentasi peserta didik untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru. Tidak ada keterbukaan dan demokrasi. Tidak ada toleransi pada kekeliruan akibat kreativitas berpikir, karena yang benar adalah apa yang dipersepsikan benar oleh guru, sehingga yang terjadi hanyalah memorisasi dan "recall" dan tidak dihargainya kreativitas dan kemampuan peserta didik. Padahal, pembelajaran yang sebenarnya semestinya lebih mementingkan pada proses "pencarian jawaban" dibanding "memiliki jawaban".
4. Pemecahan
a. Manajemen berbasis sekolah dipandang sebagai alternatif dari pola umum pengoperasian sekolah yang selama ini memusatkan wewenang di kantor pusat dan daerah. Penerapan Manajemen berbasis sekolah adalah strategi untuk meningkatkan pendidikan dengan mendelegasikan kewenangan pengambilan keputusan penting dari pusat dan ke arah ke tingkat sekolah. Dengan demikian, Manajemen berbasis sekolah pada dasarnya merupakan sistem manajemen di mana sekolah merupakan unit pengambilan keputusan penting tentang penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. MBS memberikan kesempatan pengendalian lebih besar bagi kepala sekolah, guru, murid, dan orang tua atas proses pendidikan di sekolah mereka guna mengedepankan kerjasama antara berbagai pihak tersebut di atas yang lebih dikenal dengan istilah collaborative school management lihat (Caldwell dan Spink, 1988)
b. Dalam pendekatan ini, tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu mengenai anggaran, kepegawaian, dan kurikulum ditempatkan di tingkat sekolah dan bukan di tingkat daerah, apalagi pusat. Melalui keterlibatan guru, orang tua, dan anggota masyarakat lainnya dalam keputusan-keputusan penting itu, MBS dipandang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi para murid. Dengan demikian, pada dasarnya MBS merupakan upaya untuk memandirikan sekolah dengan memberdayakannya. Dengan diterapkannya manajemen berbasis sekolah ,maka didiharapkan prestasi belajar murid lebih mungkin meningkat dari pada majanemen yang berbasis di pusat /di tingkat daerah. Para kepala sekolah akan cenderung lebih peka dan sangat mengetahui kebutuhan murid dan sekolahnya ketimbang para birokrat yang ada di tingkat pusat atau daerah. Lebih lanjut dinyatakan bahwa reformasi pendidikan yang bagus sekalipun tidak akan berhasil jika para guru yang harus menerapkannya tidak berperanserta merencanakan-nya.
c. Menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT (Strength, Weaknes, Opportunity, and Threat). Analisis SWOT dilakukan dengan maksud mengenali tingkat kesiapan setiap fungsi dari keseluruhan fungsi yang diperlukan untuk mencapai tujuan situasional yang telah ditetapkan. Berhubung tingkat kesiapan fungsi ditentukan oleh tingkat kesiapan masing-masing faktor yang terlibat pada setiap fungsi, maka analisis SWOT dilakukan terhadap keseluruhan faktor dalam setiap fungsi, baik faktor yang tergolong internal maupun eksternal. Tingkat kesiapan harus memadai, artinya, minimal memenuhi ukuran kesiapan yang diperlukan untuk mencapai tujuan situasional, yang dinyatakan sebagai: kekuatan, bagi faktor yang tergolong internal; peluang, bagi faktor yang tergolong faktor eksternal. Sedang tingkat kesiapan yang kurang memadai, artinya tidak memenuhi ukuran kesiapan, dinyatakan bermakna: kelemahan, bagi faktor yang tergolong faktor internal; dan ancaman, bagi faktor yang tergolong faktor eksternal.
d. Memilih langkah-langkah pemecahan (peniadaan) persoalan, yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. Selama masih ada persoalan, yang sama artinya dengan ada ketidaksiapan fungsi, maka tujuan situasional yang telah ditetapkan tidak akan tercapai. Oleh karena itu, agar tujuan situasional tercapai, perlu dilakukan tindakan-tindakan yang mengubah ketidaksiapan menjadi kesiapan fungsi. Tindakan yang dimaksud lazimnya disebut langkah-langkah pemecahan persoalan, yang hakekatnya merupakan tindakan mengatasi makna kelemahan dan/atau ancaman, agar menjadi kekuatan dan/atau peluang, yakni dengan memanfaatkan adanya satu/lebih faktor yang bermakna kekuatan dan/atau peluang.
e. Selain itu lingkungan sekolah sebagai lembaga pendidikan, harus dikelola secara profesional agar menjadi "sekolah belajar" (learning school) yang mampu menjamin kelangsungan hidup dan perkembangannya. Menurut Bovin (1998), untuk menjadi sekolah belajar, maka sekolah harus:
1). memberdayakan sumber daya manusianya seoptimal mungkin,
2). memfasilitasi warga sekolahnya untuk belajar terus dan belajar kembali,
3). mendorong kemandirian (otonomi) setiap warganya,
4). memberikan tanggungjawab kepada warganya,
5). mendorong setiap warganya untuk "mempertanggungugatkan" (accountability) terhadap hasil kerjanya,
6). mendorong adanya teamwork yang kompak dan cerdas dan shared value bagi setiap warganya,
7). merespon dengan cepat terhadap pasar (pelanggan),
8). mengajak warganya untuk menjadikan sekolahnya customer focused,
9). mengajak warganya untuk nikmat/siap berhadap perubahan,
10). mendorong warganya untuk berfikir sistem, baik dalam cara berfikir, cara mengelola, maupun cara menganalisis sekolahnya,
11). mengajak warganya untuk komitmen terhadap "keunggulan kualitas",
12). mengajak warganya untuk melakukan perbaikan secara terus-menerus, dan
13). melibatkan warganya secara total dalam penyelenggaraan sekolah.
f. Melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek manajemen berbasis sekolah. Dalam pelaksanaan, semua input yang diperlukan untuk berlangsungnya proses (pelaksanaan) manajemen berbasis sekolah harus siap. Jika input tidak siap/tidak memadai, maka tujuan situasional tidak akan tercapai. Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan adalah pengelolaan kelembagaan, pengelolaan program, dan pengelolaan proses belajar mengajar.
g. Pemantauan terhadap proses dan evaluasi terhadap hasil manajemen berbasis sekolah perlu dilakukan. Hasil pantauan proses dapat digunakan sebagai umpan balik bagi perbaikan penyelenggaraan dan hasil evaluasi dapat digunakan untuk mengukur tingkat ketercapaian tujuan situasional yang telah dirumuskan. Demikian kegiatan ini dilakukan secara terus-menerus, sehingga proses dan hasil manajemen berbasis sekolah dapat dioptimalkan.
5. Penutup
Mengubah manajemen berbasis pusat atau daerah menjadi manajemen berbasis sekolah merupakan suatu proses yang panjang dan melibatkan seluruh komponen yang bersangkutan dan banyak pihak. Perubahan ini memerlukan penyesuaian-penyesuaian, baik sistem (struktur)nya, kulturnya, maupun figurnya, dengan tuntutan-tuntutan baru manajemen berbasis sekolah. Dlam rangka pelaksanaan konsep menejemen ini, strategi yang dapat dilaksanakan oleh sekolah antara lain meliputi evaluasi dir untuk menganalisis kekuatan dan kelemahan sekolah, dalam pernyusunan program, sekolash harus menetapkan indikator atau target mutu yang akan dicapai. Kegiatan yang tak kalah pentingnya adalah melakukan monitoring dan evaluasi program yang telah direncanakan sesuai dengan pendanaannya guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan sesuai dengan kebijakan nasional dan target mutu yang dicapai serta melaporkan hasilnya kepada masyarakat dan pemerintah pada umumnya. Oleh karena itu, kita tidak bermimpi bahwa perubahan ini akan berlangsung sekali jadi dan baik hasilnya. Dengan demikian, fleksibiltas dan eksperimentasi-eksperimentasi yang menghasilkan kemungkinan-kemungkinan baru dalam penyelenggaraan manajemen berbasis sekolah perlu didorong. Dengan Penerapan Menejemen Berbasis Sekolah secara efektif maka diharapkan dapat mendorong kinerja kepala sekolah dan guru yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi anak didik
6. Daftar pustaka
Suryosubroto,Drs.B.Manajemen Pendidikan Di Sekolah ,Rineka Cipta,Jakarta,2004.
Dharma Agus,(2003). Manajemen Berbasis Sekolah ,http://www.ed.gov/databases/ERIC_Digests/ed301969.html
Slamet, P.H.(2000). Manajemen Berbasis Sekolah. http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/27/manajemen_berbasis_sekolah.htm
sumber :http://one.indoskripsi.com/artikel-skripsi-tentang/manajemen-berbasis-sekolah
